Friday, March 6, 2009

Tujuan Pendidikan Islam - Sebuah renungan untuk

Aldakwah.org--Pendidikan Islam, walaupun mencapai kemajuan dalam bidang sarana,namum kwalitasnya dirasakan belum memenuhi keinginan ummat. Kemerosotan itudisebabkan oleh berbagai faktor, satu diantaranya adalah ketidak fahamanterhadap tujuan Pendidikan Islam. Sebagian pendidik dan lembaga pendidikanberpandangan bahwa tujuan pendidikan adalah menyampaikan ilmu pengetahuan.Akibatnya semua usaha pendidikan hanya ditujuan untuk mentransmisikan ilmupengetahuan kepada peserta didik.Disamping itu terdapat pula anggapan bahwa yang dinamakan Pendidikan Islamadalah pendidikan yang mengajarkan ilmu-ilmu keislaman (syari'ah), sehinggaberkembang angapan bahwa ilmu-ilmu selain ilmu keislaman bukanlah merupakangarapan Pendidikan Islam. Akibatnya tujuan lembaga Pendidikan Islam terbataspada pangajaran ilmu-ilmu syari'ah.Tulisan ini mencoba mengemukan tujuan Pendidikan Islam agar kesalah pahamantersebut akan dapat diperbaiki, dan Pendidikan akan dapat berkembang sejalandengan tujuan hakiki Pendidikan Islam yang sesuai dengan kehendak ajaran Islam.TujuanTujuan merupakan fitrah yang telah melekat dalam diri setiap insan. Tidak adatindakan manusia yang tidak mempunyai tujan. Sesungguhnya perbuatan seorang yangia lakukan tanpa sadar mempunyai tujuan, walupun ia tidak mengetahui tujuan itu.Abdur Rahman Al-Qalawi, Ushul Tarbiyah al-Islamiyah, Kairo, Darul Fikril Arabi,hal. 96Seorang yang sedang tidur akan menarik tangannya bila ditusuk dengan jarum.Tujuannya adalah mempertahankan diri, atau berkeinginan untuk hidup.Biasanya, semua orang yang sadar dan berakal, selalu memikirkan tujuan setiaptindakannya. Bila ia menyadari tujuan tindakannya, akan terdorong untukmelakukan perbuatan itu. Seandainya seorang menempuh sebuah jalan tanpamengetahui sebab ia harus melewati jalan tersebut, dia tidak akan antusias lewatdi jalan itu. Tapi bila ia mengetahui bahwa di ujung jalan itu ada kebun yangindah, pemiliknya ramah dan akan mengajak setiap orang yang lewat di depan kebunitu untuk makan di pinggir kolam yang ada di kebun itu, sedangkan orang yanglewat ini sedang kelaparan, maka pasti orang tersenut akan terdorong danbersemangat melewati jalan tersebut.Demikian pula dalam semua bidang, termasuk dalam bidang pendidikan. Seorangmahasiswa akan belajar dengan tekun sepanjang tahun, bila dalam benaknya selaluterbayang apa tujuan yang akan ia capai dengan pendidikan tersebut. Ia akanberusaha sekuat tenaga mencapai tujuan yang ia idam-idamkan.Disamping itu tujuan juga akan mengarahkan proses sebuah kegiatan. Bila tujuantergambar, seorang akan dapat menentukan langkah, menentukan cara dan menentukanapa yang akan diperbuat ke arah tujuan itu.Kebutuhan terhadap tujuanDisamping hal yang kita utarakan di atas, kebutuhan sistim dan lembagaPendidikan Islam terhadap tujuan disebabkan oleh dua masalah penting lainnya,yaitu:1. Sistim pendidikan yang berkembang di negara-negara Islam adalah sistim yangdiimpor dari model Eropah dan Amerika. Sistim tersebut tidak serasi denganbudaya dan kebiasaan ummat di negara ini. Disamping itu sistim tersebut masuk kedalam negara Islam sebagai bagian dari kekuasaan kolonialis, yang otomatistujuannya sesuai dengan tujuan ekonomis kolonial itu, dan sesuai dengan dominasipolitik kelompok-kelompok terdidik dan pemerintahan negara penjajah itu.Penjajah melalui sekolah yang mereka siapkan berusaha untuk melatih orang-orangterjajah untuk melakukan peran-peran penjajah. Walaupun penjajahan fisikberakhir, namun sistim pendidikan belum banyak mengalami probahan. Kurikulum,malah bahasa di sebagian negara Islam misalnya, masih sama dengan zamanpemjajahan. Malah hubungan kebudayaan antara negara bekas jajahan dengan ngarapenjajah lebih kuat dibadingkan dengan zaman penajajahan. Dr. Majid ArsanAl-kailani, Ahdaf At-Tarbiyah Al-islamihah, Madinah, Maktabah Darut-Turast,1988, hal 35.Kekhawatiran kita terhadap budaya Barat bukan berarti kita menutup diri darisemua budaya ini, tapi kita harus mempelajarinya dengan hati-hati dan kritis,dan menganggapnya sebagai salah satu informasi. Untuk mengatasi kesensitipaninteraksi budaya itu dapat dilakukan dengan memperhatikan beberapa hal: (a)siapa yang kita pilih untuk berinteraksi itu; (b) pada umur berapa mereka kitabolehkan berinteraksi; dan (c) di mana tempat interaksi itu dilakukan.2. Sebab kedua adalah bahwa sistim pendidikan di negara Islam masih merupakanpenceplakan terhadap model pendidikan lama yang berkembang di negara-negaraIslam. Pendidikan model lama itu belum memahami tujuan Pendidikan Islam dantidak pula menghayati hubungan tujuan dengan proses pendidikan. Tujuansatu-satunya yang terlihat dalam pendidikan lama ini adalah mentranformasikanbudaya orang tua kepada anak-anaknya tanpa melakukan pengembangan dan tanpamemperhatikan kebutuhan masa depan anak tersebut. Hal ini sama dengan apa yangdiungkap Allah dalam surat Az-zuhruf ayat 22.Oleh sebab itu kurikulum yang diberikan kepada anak-anak saat ini sama denganapa yang diberikan pada masa yang lalu tanpa memperhatikan perbedaan kebutuhansaat ini dan masa yang lalu dan tanpa memperbadingkan probelma yang dihadapioleh ummat masa kini dengan problema mereka masa lampau. Ibid, hal 39Akibat ketidak pahaman tujuan ini lahirlah keterbelakangan di berbagai lembagapendidikan Islam, baik dalam bidang kurikulum ataupun dalam bidang metode. Danyang lebih naif lagi timbulnya dualisme, atau dikhatomi dalam sistim pendidikankita saat ini.Tujuan Pendidikan IslamBila kita ingin berbicara tentang tujuan Pendidikan Islam, kita harus melihattujuan hidup manusia di dunia ini. Tujuan itu tertera dalam Surat Az-Zaiyat ayat56."Aku jadikan Jin dan Manusia itu untuk beribadah kepadaku".Beribadah itu jugalah yang menjadi tujuan yang akan dicapai oleh PendidikanIslam. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa tujuan Pendidikan Islam adalah"bagaimana merealisasikan ubudiyah lillah dalam kehidupan insan, baik secaindividu ataupun kelompok".Dr. Hamid Mahmud Ismail, Min Ushul Tabiyah fil Islam,Shan'a, Wizarah Atbiyah wa At-Ta'lim, l986, hal. 98Ibadah yang dimaksudkan di sini bukanlah terbatas pada ritual-ritual Islam,seperti shalat, shiyam dan zakat, tapi lebih luas dari itu. Ibadah dalampengeritan bahwa seseorang hanya menerima seluruh masalah kehidupannya dariAllah SWT, dalam arti bahwa ia terus menerus dalam hubungan dengan Allah SWT.Shalat, shiyam, zakat tidak lebih dari miftah ibadah/kunci ibadah, atau sebagaihalte tempat menambah perbekalan bagi seorang yang sedang mengembara. Ibid, hal.98Sesunggunya seluruh perjalanan, mulai dari bidayah, sampai kepada nihayah adalahibadah. Ibadah dalam pengertian seperti ini mencakup seluruh kehidupan manusia,tidak terbatas pada waktu pendek yang dipergunakan untuk ritual itu saja. Kalauitu yang dimaksud dengan ibadah oleh ayat 56 surah Azzariyat itu, tentu ayat itutidak mempunyai makna yang mendalam. Apa artinya waktu yang babarapa menit untukritual itu jika dibandingkan dengan kehidupan kita yang panjang itu ! Hampir iatidak mempunyai pengaruh apa-apa. Ayat ini baru mempunyai makna penting bilaibadah dijadikan manhaj hayah/sistim kehidupan manusia ini, dan bila ibadah itumenjadi cara berbuat, dan cara berfikir insa tersebut. Dalam arti bahwa semuaperbuatan manusia harus kembali kepada Allah.Membentuk hubungan hati manusia dengan Allah SWT, dan mendorong hati manusiauntuk kembali kepada Allah pada setiap saat adalah kaedah pokok PendidikanIslam. Dengan kaedah inilah semua masalah dilaksanakan. Tanpa kaedah ini segalaperbuatan di dunia tidak mempunyai arti.Oleh sebab itu, tujuan Pendidikan Islam berbeda dengan tujuan pendidikanlainnya, yaitu membentuk muslim yang beramal shaleh. Dalam arti bahwa manusiayang ingin diciptakan oleh Pendidikan Islam adalah insan yang dalam semuaamalnya selalu berhubungan dengan Allah SWT.Amal ShalehDilihat dari implimentasinya, amal shaleh dapat dibagi kepada amal agama yangshaleh, amal sosial yang sholeh dan amal alami atau kauni yang sholeh. Namunbila dilihat dari pengaruhnya, amal shaleh dapat dikatagorikan kepada duakelompok:Pertama. amal yang mendatangkan kemanfaatan dan keredhaan Allah.Kedua. amal yang bertujuan menghindarkan kemudharatan dan menjauhkan kemarahanAllah.Individu yang melakukan kedua bentuk amal shaleh itu desebut sebagaishaleh-mushlih. Sedangkan yang hanya melakukan yang pertama saja disebut denganshaleh. Melakukan salah satunya belumlah memadai, sebab yang pertama diperlukanuntuk pengembangan dan kemajuan, sedangkan yang kedua adalah untuk menghalangisebab-sebab kemufsadatan dan keterbelakangan. Ibid, hal. 49.Pendidikan Islam berusaha untuk menciptakan manusia yang shaleh dan mushlih itu,dalam arti berusaha menciptakan insan yang akan berusaha melakukan kedua sisiamal shaleh tersebut. Hal ini disebabkan penegasan Allah dalam surat Al-Anfalayat 25 yang mengatakan bahwa kehancuran tidak akan menimpa ummat yanganggotanya shaleh dan mushlih, tapi masyarakat yang anggotanya hanya shaleh sajaakan dihadapkan kepada kehancuran.Bagaimana Menciptakan individu yang beramal shaleh?Pertanyaan yang muncul bagaimana cara Pendidikan Islam menciptakan individu yangberamal shaleh ? Untuk menjawab pertanyaan ini, kita harus memberikan defenisiamal dan bagaimana menciptakan amal itu.Amal dalam Pendidikan Islam adalah semua gerak yang diiringi dengan niyat. NabiSAW bersabda: "Sesungguhnya setiap amal itau mempunyai niat". Setiap gerakantanpa niat (tujuan) tidak dinamakan amal. Bila dikhususkan kepada manusia, makasetiap gerak yang bertujuan mendatangkan kemanfaatan atau menghindarkankemudharatan (keburukan) dinamakan oleh Al-Quran sebagai amal. Sedangkan geraktanpa tujuan disebut Al-Quran sebagai jiryan (peredaran), seperti peredaranmatahari dan bumi.Dengan demikian, amal adalah gerak dan tujuan, atau dalam ungkapan lain kudrahdan iradah (kemampuan dan keinginan). Bila ada kemampuan dan ada pula keinginanmaka akan tercipta amal.Kudrah dapat berarti tenaga (thaqah) yang terdapat pada manusia dan hewan. Iadapat pula berarti kemampuan untuk menundukkan alam. Ini hanya dipunyai olehmanusia. Kudrah dalam pengertian inilah yang akan diarahkan oleh PendidikanIslam. Kemampuan untuk menundukkan ini adalah perkawinan antara kemampulan akaldengan pengalaman dan keahlian manusia dalam bidang agama, sosial dan kauni.Sedangkan Iradah adalah keinginan individu terhadap tujuan-tujuan tertentu.Iradah ini juga suatu hal yang membedakan manusia dengan hewan.Atas dasar ini, maka Pendidikan Islam memusatkan perhatiannya kepada pembentukanindividu Muslim agar melakukan amal sholeh dalam dirinya, yaitu denganmengembangkan kemampuan akal sampai ketingkat kematangan dan keahlian baik dalambidang agama, sosial maupun kauni. Dalam kalimat yang lebih tergas, tujuan utamaPendidikan Islam adalah menciptakan muslim yang shaleh yang oleh banyak ulamadigariskan dalam sepuluh ciri, yaitu Said Hawa, Fi Afaq At-Ta'alim, Kairo,Maktabah Wahbah 1980, hal 32:Berbadan sehatBerakhlak baikBerwawasan luasBerkesanggupan berusahaBerakidah lurusBeribadah benarBertekad tinggiBerjaga-jaga terhadap waktunyaBermanfaat bagi orang lainBerketeraturan dalam semua amalPenutupDari uraian di atas kita dapat mengatakan bahwa Pandidikan Islam adalahpendidikan yang syumul, yang mencakup semua segi pendidikan, baik akal, wujdandan jasmani, atau kognitif, afektif dan psikhomotorik. Dengan demikian tujuanpendidikan juga akan mencakup seluruh aspek kehidupan manusia.Bila individu muslim berhasil dididik menjadi manusia-manusia shaleh dan muslih,maka keluarga muslim akan tercipta dengan sendirinya, dan selanjutnya keluargatersebut akan menjadi dasar bagi pembentukan masyarakat muslim yang baik.

No comments:

Post a Comment